![]()
Ilustrasi 1 (Generate AI by Rendra)
Oleh : Rendra
Dalam beberapa tahun terakhir, kajian mengenai ethno-science mulai mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan terutama para akademisi, di Indonesia hal itu umumnya terkait dengan upaya dekolonisasi epistimologi Nusantara.
Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa teori-teori sosial, budaya dan sains yang kita pelajari seringkali menggunakan kacamata luar (barat) dan juga sering kali tidak selalu cocok dengan konteks lokal.
Tujuannya tentu bukan untuk membuang perspektif ilmu yang dipopulerkan oleh barat sepenuhnya, melainkan menciptakan “kesetaraan” agar pengetahuan lokal tidak lagi dianggap inferior atau kalas dua. Dekolonisasi epistemologi adalah “obat” untuk menyembuhkan perspektif sains kita terhadap sindrom post-kolonial (mentalitas inlander) dimana kondisi psikologis dan intelektual masyarakat yang pernah dijajah eropa merasa bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat selalu lebih unggul, modern dan “benar” semantara dari perspektif kita sendiri dianggap memalukan dan tidak relevan.
Dalam prakteknya ketika kita melakukan sebuah observasi dan pengamatan pada pengetahuan lokal maka kita memposisikan pengetahuan lokal tersebut sebagai subjek kritis bukan dogma yang tidak boleh dipertanyakan, tentu hal tersebut kita lakukan agar tidak terjebak dalam pseudo-sains, dekolonisasi harus tetap berpijak pada prinsip objektivitas dan pengujian bukan membuang metode ilmiah (logika, observasi dan verifikasi) hanya karena semua itu cenderung dipopulerkan oleh Barat (eropa) dan dunia modern. Kita akan tetap menggunakan metode tersebut untuk menguji dan memvalidasi sebuah kearifan lokal. Berbekal pengetahuan tersebut kita dapat menguji dan memvalidasi sisi lain dari sebuah kearifan lokal. Pengetahuan Nusantara harus bisa dibuktikan efektivitasnya, bukan hanya dipercaya karena faktor tradisi dan dogma.
Dalam perspektif dekolonisasi epistemologi Nusantara yang penulis maksud, etno-sains tidak hadir untuk menafikan atau membuang perspektif sains modern justru mengajak kita membangun dialektika kritis yang memungkin adanya proses penerjemahan, pengujian dan pemaknaan ulang “pengetahuan (lokal) tradisional” ke dalam kerangka ilmiah tanpa menghilangkan “konteks” kulturalnya.
Seperti contoh pada tulisan kita sebelumnya (Part I) dalam salah satu bahasannya terkait dengan WISA SANGGA yang dikutip dari tulisan Rendra yang terbit di Kompasiana pada 29 Desember 2024 dimana dalam perspektif etno-sains yang melihat mitos serangan penyakit dari hutan Kalimantan yang dikenal masyarakat bernama “Wisa Sangga” dengan gejala tubuh korban menguning, lalu kemudian Maiyun (kondisi fisik melemah) yang bisa berujung pada kematian dan juga adanya mitos-mitos seputar WISA SANGGA yang dikemas dalam bentuk papadah (peringatan dan pantangan-pantangan) terkait pencegahan serangan WISA SANGGA tersebut. Dalam kacamata etno-sains masa kini dapat kita fahami sebagai “hasil” dari observasi empiris yang terakumulasi dalam pengalaman masyarakat Banjar dan Dayak di Kalimantan namun untuk memahaminya sebagai salah satu etno-sains maka kita perlukan pendekatan dengan metode ilmiah dimana pendekatan ini berfungsi memvalidasi kearifan lokal dengan logika dunia sains modern.
ternyata benar saja, melalui pendekatan metodologis modern akhirnya terdapat titik temu yang sangat kuat antara apa yang disebut Wisa Sangga dengan faktor resiko kesehatan pada ekositem hutan tropis yang lembab dimana penyakit yang disebut Wisa Sangga adalah infeksi Malaria atau paparan parasit Schistosomiasis yang kemudian menyerang fungsi hati (liver) manusia, menariknya bukan hanya sampai disitu saja papadah atau nasehat yang mengandung pantangan-pantangan terkait Wisa Sangga sendiri ternyata adalah bagian dari apa yang kita sebut sekarang protokol pencegahan terhadap bahaya kesehatan tersebut.
Sederhananya Penafsiran konsep Wisa Sangga diatas menunjukkan bahwa narasi mitologis mengenai gejala tubuh korban yang menguning, kondisi fisik semakin melemah/maiyun (bhs.banjar), serta narasi pencegahan melalui papadah (nasehat) dan pantangan tertentu dapat dibaca sebagai bentuk observasi empiris yang terakumulasi dalam pengalaman ekologis masyarakat tradisional.
Ketika gejala tersebut dikorelasikan dengan indikator medis seperti gangguan fungsi hati atau infeksi malaria yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles, terlihat adanya korespondensi yang dapat diverifikasi melalui metode ilmiah berbasis observasi, logika, dan konfirmasi empiris. Demikian pula, larangan terhadap interaksi dengan air hutan yang menggenang dan menguning dapat ditafsirkan sebagai mekanisme preventif terhadap kemungkinan dari paparan parasit seperti Schistosomiasis, yang secara epidemiologis memang berkembang pada lingkungan tropis yang lembap. Proses ini menegaskan bahwa etno-sains bekerja bukan dengan menggantikan standar verifikasi ilmiah, tetapi dengan memperluasnya melalui integrasi pengalaman lokal sebagai data awal yang sah untuk diuji dan dipahami.
Dengan demikian, dapat kita lihat titik temu yang memperlihatkan bahwa etno-sains berperan sebagai jembatan epistemik yang menghubungkan dua cara pandang antara mitos tradisional sebagai medium kultural dan sains sebagai sistem analitis tanpa harus mereduksi salah satunya.
Wisa Sangga, dalam hal ini, bukan lagi dilihat hanya sebagai mitos tradisional, melainkan menjadi bukti bahwa masyarakat lokal telah lama mengembangkan sistem pengetahuan preventif yang akurat, adaptif, dan selaras dengan realitas lingkungan mereka. Inilah yang kemudian mengukuhkan bahwa dekolonisasi epistemologi Nusantara bukan hanya sebagai upaya kritik, tetapi juga proses afirmasi terhadap kecerdasan lokal sebagai sumber pengetahuan yang sah, teruji, dan relevan dalam diskursus ilmiah kontemporer
Dalam perspektif dekolonisasi epistemologi Nusantara gerakan dekolonisasi sains ini adalah tentang memperluas sumber pengetahuan, bukan menurunkan standar kebenaran ilmiah, Namun membuka celah sindrom post-kolonial yang selama ini mengaburkan jati diri pengetahuan lokal kita. Dekolonisasi membantu menyusun ulang identitas tersebut dengan menggali kembali kekayaan intelektual yang sempat tepinggirkan oleh penjajahan.
Contoh kecil, pada masa kolonial masyarakat Nusantara diidentikan dengan masyarakat “buta huruf” karena banyak yang belum bisa membaca huruf latin yang kala itu baru diperkenalkan oleh Barat. kita pun sempat mengamininya, sebagai bangsa bodoh yang “buta huruf” tapi faktanya kenyataan itu tidak sepenuhnya benar, jauh sebelum huruf Latin dipopulerkan penjajah dari Barat sebagian besar masyarakat nusantara sudah mengenal dan bisa membaca huruf comtohnya seperti huruf arab dengan bahasa lokal (arab melayu / arab pegon) bahkan dalam dunia Islam ulama-ulama nusantara sudah produktif dengan karya tulisannya. Jika kita tarik lebih jauh lagi ada aksara yang digunakan pada kalangan dan lapisan masyarakat tertentu di nusantara, mereka sudah megenal huruf/aksara seperti Aksara Lontara di Sulawesi, bahkan Aksara Jawa (Hanacakara) yang berakar dari Aksara Kawi (Jawa Kuno) dan akarnya lagi dari aksara Pallawa dari India yang sudah ada di Nusantara setidaknya terabadikan dalam prasasti Yupa diabad ke 4-5 Masehi yang menandai masa sejarah Indonesia.
- Ilustrasi perdagangan Nusantara (Generate AI by Rendra)
jika kita dalam kacamata sejarah yang objektif membandingkan abad ke-8 masehi di Eropa dan abad ke-8 masehi di Nusantara adalah jurang perbedaan yang sangat kontras. Jika saat itu eropa adalah masa kegelapan (dark age) berbanding terbalik justru Nusantara saat itu adalah sebaliknya, yakn pada masa kejayaan dan keemasan Empirium besar seperti Sriwijaya dan Mataram Kuno (Dinasti Saylendra dan Dinasti Sanjaya). Jika di eropa sistem ekonomi umumnya hanya berbasis agraris lokal dan barter (perdagangan jarak jauh sangat terbatas karenan ancaman keamanan) maka saat itu Nusantara sebaliknya menjadi pusat perdagangan Internasional yang menghubungkan Tiongkok, India dan Arab melalui Selat Malaka ini bukan bagian dari sejarah yang dinarasikan bombastis namun dari fakta sejarah yang ada dan tervalidasi.
Bagi sebagian peneliti mungkin khawatir dengan semangat dekolonisasi sains apalagi yang berkaitan dengan etno-sains. Kekhawatiran tersebut tentu juga sangat beralasan karena adanya anggapan dekolonisasi dengan narasi yang bilombastis dapat menyeret kepada pseudo-sains.
Namun kita juga perlu mengingat point yang sangat krusial karena sering kali narasi dekolonisasi terjebak dalam dualisme sempit antara “Nusantara vs Barat”, bahkan hal tersebut akhirnya juga seolah-olah menempatkan sejarah intelektual kita baru dimulai saat kolonialisme datang. Kenyataannya, Nusantara adalah titik temu (melting pot) peradaban besar dunia jauh sebelum Renaisans Eropa dan apakah menyatakan itu juga Pseudo-Historis ? jika hal itu disebut Pseudo-historis kenapa tidak sekalian kita narasikan bahwa Borubudur dan kompleks candi Muaro Jambi dibangun saat masa berkembangnya VOC karena ilmu pengetahuan kita dianggap berkembang hanya saat keadatangan bangsa Barat (eropa) di Nusantara. Maka dari itu memahami hal ini membantu kita memposisikan dekolonisasi secara lebih luas dan adil sesuai dengan koridornya dengan tidak berpijak pada narasi bombastis.
Sekali lagi, gerakan dekolonisasi sains ini adalah tentang memperluas sumber pengetahuan yang sempat terkikis akibat sindrom post-kolonial yang mengaburkan jati diri pengetahuan lokal kita, menyusun ulang identitas tersebut dengan menggali kembali kekayaan intelektual yang sempat tepinggirkan pada masa penjajahan. Pengetahuan lokal kita terbentuk dengan berbagai macam alasan dari yang berbasis pengalaman empiris dan kolektif masyarakat karena lahir dari pengalaman panjang interaksi manusia dengan lingkungannya serta hasil dari pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan, akibat dari proses interaksi penduduk nusantara dengan penduduk dunia seperti India, Timur Tengah dan China yang jauh lebih dulu sebelum kedatangan bangsa Eropa.
sejatinya pendekatan ini menawarkan cara pandang yang menempatkan sistem etno-sains yang setara secara epistemologis dengan sains modern. Kebaruannya terletak pada upaya membaca ulang praktik tradisional bukan hanya difahami sebagai objek folkloristik, tetapi sebagai “labolatorium pengetahuan” yang hidup ditengah akar masyarakat tradisional. Dengan cara ini, dekolonisasi epistemologi tidak berhenti hanya sebagai wacana tetapi brnar-benar membuka kemungkinan integerasi antara pengetahuan lokal dan sains kontemporer tanpa harus mereduksi salah satunya (*)
