Koleksi kloase Rendra
Dalam lingkup pengetahuan lokal di Kalimantan, mitologi tidak lagi semata hanya diposisikan sebagai “cerita tradisional” yang irasional, dimasa kini mitos, pengetahuan tradisional juga menawarkan opsi sebagai bentuk ethno-science yakni sistem pengetahuan berbasis pengalaman empiris masyarakat yang dikodekan melalui bahasa simbolik dan narasi kultural. Dalam konteks ini, mitos-mitos dan pengetahuan tradisional menjadi medium transmisi pengetahuan ekologis, kosmologis, hingga teknologi adaptif yang diwariskan lintas generasi. Sayangnya, dominasi epistemologi Barat pasca-kolonial telah lama mereduksi nilai pengetahuan ini, seolah-olah masyarakat lokal tidak memiliki kerangka rasionalitas sendiri. Padahal, jika dibaca secara lebih kritis, banyak mitos justru mengandung prinsip-prinsip ilmiah yang kontekstual dan teruji oleh waktu.
Kita ambil contoh dari yang paling umum yakni pohon Beringin atau Kariwaya (Bhs.Banjar) adalah pohon yang sangat umum dan hampir diseluruh wilayah Indonesia dan lintas budaya dianggap sebagai pohon angker, sarang hantu dan dedemit. Pohon Beringin tidak jarang ditakuti dan dikeramatkan, mistifikasi terhadap pohon Beringin ini menyebabkan pohon beringin terjaga kelestariannya luput dari arogansi penebangan pohon secara brutal. Apalagi jika kita lihat misalnya pada situs-situs arkeologi Jawa Kuno, khususnya era Majapahit dan Mataram Kuno dimana pohon Beringin dan situs Petirtaan adalah dua elemen yang sering sekali ditemukan bersamaan tentu hal itu tidak sesuatu yang kebetulan. Pohon Beringin (Ficus benjamina dan jenis Ficus lainnya) adalah pohon yang sangat erat kaitannya dengan hidrologi pohon raksasa yang “wingit” tersebut adalah raksasa penyimpan air atau pahlawan ketersediaan air tanah dan dalam kacamata sains modern sangat banyak penelitian-penelitian modern yang menjelaskan terkait pohon beringin dan manfaat hidrologi dan pencegahan erosinya, berkurangnya pohon beringin di kawasan hutan atau sempadan sungai (DAS) dapat mempengaruhi ketersediaan air tanah dan meningkatkan risiko limpasan permukaan. Maka dari itu melestarikan pohon Beringin sama dengan menjaga kelestarian sumber daya air terutama pada ekosistem karst. Mengutip Frengki Nur Fariya Pratama, Saifuddin Alif Nurdianto, Sukarjo Waluyo, dalam riset berjudul Mistifikasi Masyarakat Jawa terhadap Pohon Beringin sebagai Upaya untuk Konservasi Air Tanah dan Bencana Ekologis yang diterbitkan dalam Jurnal Jantra Vol. 17, No. 1, Juni 2022, menjelaskan mistifikasi yang dilakukan oleh masyarakat menyebabkan pohon beringin terjaga kelestariannya.
*Petirtaan (situs pemandian atau kolam air suci peninggalan kerajaan Hindu-Buddha)
Jika kita perhatikan lagi tentang kaitan pohon Beringin dan fungsi Hidrologinya bukan tidak diketahui oleh orang dulu, nenek moyang orang Jawa sudah mengetahui hal ini dengan membuat Petirtaan dengan pohon beringin disekitarnya. Situs yang dianggap suci tersebut bahkan mempunyai dua sisi yakni menempatkan Beringin pada fungsi alamiahnya sebagai penjaga ekosistem air serta tanah pada kawasan tersebut dimana pada sisi lainnya Petirtaan dan Beringin sebagai elemen sakral, suci yang membuatnya luput dari pengrusakan.
Pada masa modern ini bahkan ditemui kasus unik ketika deforestasi di Thailand semakin meningkat dan mempengaruhi ketidakstabilan alam disana maka kekhawatiran muncul dari berbagai kalangan termasuk dari para Bikhu Buddhis. Para Bikhu tersebut mengambil langkah strategis yakni di tengah kerusakan lingkungan ada beberapa pohon yang tetap utuh. Pohon-pohon ini kemudian dibungkus dengan jubah oranye terang yang ikonik dan dianggap suci. Pohon-pohon ini kemudian ditahbiskan sebagai “biarawan” yang otomatis terlindungi dari bahaya dan kehancuran akibat deforestasi yang bersumber dari ulah manusia. Dengan 90 persen penduduk Thailand yang menganut Buddhisme, para biksu memegang peran penting sebagai pemimpin yang menjadi panutan bagi masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Dengan pengaruh yang begitu besar tersebut di desa-desa di seluruh Thailand, para biksu memanfaatkan posisi mereka untuk menambahkan dimensi moral yang unik pada gerakan lingkungan (dikutip dari : news.espos.id dengan berita Ecology monks in Thailand seek to end environmental suffering, 13/8/2018).

Thai monks use sacred saffron rituals to save trees (Sumber : South China Morning Post/scmp.com)
Jika merujuk pada kerangka pembahasan artikel ini mengenai mitos dan pengetahuan tradisional yang menjadi medium transmisi pengetahuan ekologis, kosmologis dan lainnya maka akan banyak sekali contoh yang dapat kita perhatikan. Dalam ranah Etno-sains khususnya melalui kacamata Ethno-Meteorology dimana masyarakat nusantara pada masa lalu menggunakan tanda-tanda alam atau perilaku hewan untuk memprediksi perubahan cuaca atau musim. Sebagai contoh seperti yang dikutip dari artikel Rendra di Kompasiana berjudul “Kode Alam dan Manusia Hulu Sungai di Kalimantan Selatan” menyebutkan bahwa kedatangan musim hujan diprediksi melalui tanda bermunculannya Kalimbuai atau Gondang (Pila Ampullacea) dalam jumlah yang banyak dan yang paling umum ditemui pada masyarakat hulu sungai di Kalimantan Selatan hingga kini adalah ketika melihat telur Kalimbuai atau Gondang yang menempel pada suatu tempat maka masyarakat meyakini tingginya air di lokasi tersebut akan mencapai tempat telur tersebut menempel. Karena mereka menyakini Kalimbuai mempunyai insting yang mampu membaca kemungkinan bertambahnya volume air sehingga ketika volume air naik akan mencapai telur tersebut pada waktu yang tepat telur tersebut menetas.
Contoh lainnya adalah fenomena kemunculan serangga Urup (bhs.Banjar) atau Laron (rayap terbang) yang mengerubungi cahaya lampu. Pada Masyarakt Banjar Hulu meyakini hal ini sebagai pertanda “banyu handak dalam” (debit sungai akan naik). Fenomena ini selaras dengan pandangan ilmiah; dimana Laron biasanya keluar dalam jumlah yang besar saat kelembaban udara tinggi dan suhu tanah berubah, yang sering kali terjadi ketika menjelah atau setelah hujan lebat. Laron menyukai suhu antara 25-28 °C. Perubahan suhu dan kelembapapan inilah yang menjadi pemicu utama Laron keluar dari sarangnya untuk melakukan reproduksi.
Melalui kacamata etno-astronomi, masyarakat adat (Dayak/Bukit) di wilayah pegunungan Meratus yang tinggal di pedalaman Kalimantan Selatan juga telah lama memanfaatkan “pengetahuan langit” untuk menunjang aktivitas pertanian. Mereka menentukan waktu terbaik untuk bercocok tanam padi dengan mengamati pola bintang. Munculnya gugus bintang Karantika Maharam (kumpulan bintang kecil atau bintang putih) sekitar pukul 02.00 dini hari menjadi isyarat yang sangat penting bahwa musim tanam (manugal) telah tiba. Dalam astronomi modern, gugusan bintang ini kemungkinan besar merujuk pada Pleiades yakni gugus bintang yang secara universal memang sering digunakan berbagai peradaban kuno dunia sebagai penanda kalender agraris.
Bahkan dalam sebuah artikel Rendra yang terbit di Kompasiana pada 29 Desember 2024 berjudul “Wisa Sangga, Bahasa Budaya, Mitos dan Fakta Ilmiah” memperlihatkan secara jelas sebuah fakta yang menarik yakni sebuah perpaduan antara Etno-Medicine, Etno-Epidemologi, Etno-Ekologi yang penggambaranya dibalut dengan sebuah terminologi lokal yang disebut “Wisa Sangga” bahkan mitos-mitos yang meliputi Wisa Sangga itu sendiri merupakan pesan terkait protokol kesehatan yang dibungkus dalam bahasa budaya agar masyarakat patuh untuk menjauhi area yang diduga memiliki kemungkinan bahaya virus yang tidak terlihat tersebut.
Jika kita urai lebih dalam apa yang ada pada artikel Rendra terkait Wisa Sangga. Konsep Wisa Sangga dalam tradisi masyarakat Banjar dan Dayak merupakan bentuk nyata dari etno-medicine, dimana gejala klinis yang terjadi pada tubuh korban yang menguning dan kondisi fisik yang melemah (maiyun) ini secara akurat berkorelasi dengan diagnosa medis terkait penyakit kuning (liver) atau malaria yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles yang terinfeksi dan menularkan parasit. Nyamuk yang menyebarkan penyakit Malaria berkembang pada kawasan tropis atau sub-tropis dan dekat dengan katulistiwa, kondisi alam seperti ini memang sangat mencerminkan hutan-hutan lembah di Kalimantan. Pekerja hutan yang tidak terlindungi dengan baik dari gigitan nyamuk bisa terinfeksi malaria, yang bisa kemudian menyerang fungsi hati dan menyebabkan gejala penyakit kuning. Dalam mitos seputar Wisa Sangga juga mencerminkan kecerdasan etno-epidemiologi lokal melalui serangkaian papadah (nasehat) dan pantangan seperti mandi melawan arus atau menghindari air hutan yang menggenang dan menguning yang secara ilmiah berfungsi sebagai protokol pencegahan terhadap paparan parasit Schistosomiasis (cacing parasit yang dapat menyerang fungsi hati dan sering ditemukan di daerah tropis atau subtropis). Secara etno-ekologi, pengetahuan ini menunjukan pemahaman masyarakat terhadap resiko kesehatan pada ekosistem hutan tropis yang lembap dan membuktkan bahwa istilah “Wisa Sangga” dan seputar mitosnya merupakan Indigenous Preventive Medicine” (Ilmu Pencegahan Penyakit Pribumi) yang sangat relevan sebagai rambu bahaya kesehatan yang dikemas secara luhur dengan bahasa budaya. Ilmuwan asal Indonesia, Dr. Bagus Putra Muljadi, yang saat ini menjabat sebagai Assistant Professor di University of Nottingham-Inggris sering menekankan bahwa narasi-narasi seperti ini adalah bentuk dari Indigenous Knowledge yang bersifat empiris namun disampaikan secara metaforis.
Dari banyak hal diatas, penulis sangat setuju dengan Dr. Bagus Muljadi dimana beliau sering menekankan bahwa cara kita memandang kebenaran saat ini hampir sepenuhnya mengikuti standar Barat (akademis, tertulis, dan mekanistik). Hal ini membuat kita sering menganggap remeh pengetahuan lokal yang tidak tertulis (seperti mitos) yang diperparah oleh sindrom post kolonial, meminjam istilah yang sering diucapkan Dr. Bagus Muljadi yakni “Epistemik Kolonial” istilah beliau untuk fenomena di mana masyarakat kita merasa “kurang pintar” jika tidak menggunakan referensi dari Barat.
Penulis sangat setuju dengan gagasan dekolonisasi sains yang sering disuarakan oleh Dr. Bagus Muljadi yang pada dasarnya adalah upaya untuk memerdekakan cara berfikir kita dari ketergantungan mutlak pada standar Barat (*)
